HEI TelUtizen! Gak terasa ya, aroma Ramadhan sudah mulai tercium. Iklan sirup sudah makin sering lewat di FYP, dan jadwal bukber mungkin sudah mulai disusun di grup WhatsApp. Tapi, selain menyiapkan fisik untuk menahan lapar dan haus dari subuh sampai magrib, sudahkah kita menyiapkan “mental” untuk menahan hal yang jauh lebih sulit? Ya, apalagi kalau bukan pengendalian emosi.
Banyak yang bilang kalau puasa itu adalah “perang” melawan diri sendiri. Namun, seringkali kita terjebak pada pemikiran bahwa musuh terbesarnya adalah rasa lapar. Padahal, esensi puasa yang sesungguhnya adalah self-mastery atau kemampuan untuk memegang kendali penuh atas diri kita, termasuk lisan, jari (di media sosial), dan hati.
Menaklukkan “Hangry” dengan Kepala Dingin
Pernah dengar istilah hangry? Kondisi di mana seseorang jadi gampang marah atau baper hanya karena sedang lapar. Saat perut kosong, kadar gula darah menurun dan otak kita cenderung lebih sensitif terhadap stres. Di sinilah tantangan pengendalian emosi saat puasa diuji.
Menahan diri bukan berarti kita jadi robot yang nggak punya rasa kesal. Namun, puasa melatih kita untuk memberikan “jeda” antara stimulus dan reaksi. Saat ada motor yang memotong jalan atau rekan kerja yang bikin geregetan, puasa adalah alarm yang mengingatkan kita untuk menarik napas dalam-dalam dan berbisik, “Sabar, lagi puasa.” Jeda inilah yang membuat kita lebih dewasa dalam bersikap.
Mengasah Empati Sosial: Merasakan Apa yang Mereka Rasa
Selain urusan internal dengan diri sendiri, Ramadhan adalah momen emas untuk memperhalus empati sosial. Dengan merasakan perihnya perut yang kosong, kita diingatkan secara paksa bahwa di luar sana ada banyak saudara kita yang merasakan hal serupa bukan karena kewajiban agama, tapi karena keadaan ekonomi.
Empati inilah yang seharusnya mendorong kita untuk tidak sekadar menahan diri dari makan, tapi juga menahan diri dari sikap egois. Menahan diri untuk tidak memamerkan kemewahan di saat orang lain sedang berjuang, atau sekadar menahan diri untuk tidak menulis komentar negatif di media sosial, adalah bentuk empati nyata yang sangat dibutuhkan di era digital ini.
Tips Sederhana Menjaga “Hati” Tetap Adem:
- Kurangi Konsumsi Konten Toxic: Jika melihat postingan tertentu bikin kamu pengen “julid”, mending mute dulu selama Ramadhan.
- Perbanyak Afirmasi Positif: Ingat bahwa pahala puasa bisa “bocor” kalau emosi gak terjaga.
- Cari Kegiatan Produktif: Alihkan rasa lapar dengan belajar hal baru atau melakukan hobi yang bermanfaat.
Belajar mengendalikan diri dan membangun karakter yang kuat adalah investasi jangka panjang untuk masa depanmu. Sama halnya dengan memilih tempat belajar, kamu butuh lingkungan yang mendukungmu untuk tumbuh secara intelektual maupun karakter.
Telkom University Jakarta hadir dengan ekosistem pendidikan yang dinamis dan modern, sangat cocok untuk kamu yang ingin mengasah skill masa depan dengan disiplin yang tinggi. Di sini, kamu gak cuma belajar teknologi, tapi juga dibentuk menjadi pribadi yang punya integritas dan adaptabilitas tinggi—mirip banget kan sama esensi menahan diri di bulan Ramadhan? Yuk, siapkan masa depanmu yang cerah bareng kami di Telkom University Jakarta!
Sudah siap menyambut Ramadhan dengan versi terbaik dirimu?
Penulis : Siti Zakiyah | Editor : Husna Rahmi
Baca Juga : Pers, Fakta & Cerita yang Membentuk Cara Kita Melihat Dunia
Baca Juga : Smart Grow: Solusi Masa Depan Pertanian Indonesia dari Mahasiswa Tel-U Jakarta
Baca Juga : Apa Itu Nisfu Sya’ban? Keutamaan dan Amalan yang Dilakukan
