Hari Wanita Internasional: Bukan Sekadar Seremonial, Tapi Simbol Perjuangan

International Womens Day

HEI TelUtizen! Pernah nggak sih kalian melihat beranda media sosial kalian penuh dengan ucapan “Happy International Women’s Day” setiap tanggal 8 Maret, tapi kalian sendiri masih agak bingung: “Sebenarnya ini hari apa sih? Cuma buat kasih bunga ke ibu atau pacar aja?”

Nah, kalau kalian berpikir ini cuma hari perayaan biasa, kalian wajib baca artikel ini sampai habis. Ternyata, di balik estetikanya ucapan di Instagram, ada sejarah panjang yang penuh dengan “keringat” dan keberanian para perempuan hebat di masa lalu.

Berawal dari “Gerakan Berisik” di New York

Sejarah Hari Wanita Internasional atau International Womens Day (IWD) ternyata nggak bermula dari pesta teh yang cantik, melainkan dari aksi protes di jalanan. Mundur ke tahun 1908, ada sekitar 15.000 perempuan di New York City yang turun ke jalan. Mereka menuntut jam kerja yang lebih pendek, gaji yang lebih layak, dan yang paling penting: hak untuk memberikan suara (voting).

Bayangkan, di zaman itu perempuan bahkan nggak punya suara dalam menentukan arah negara. Setahun kemudian, Partai Sosialis Amerika mendeklarasikan Hari Wanita Nasional yang pertama. Namun, ide untuk menjadikannya “Internasional” baru muncul pada tahun 1910 dalam sebuah konferensi di Kopenhagen, berkat usulan seorang aktivis Jerman bernama Clara Zetkin. Sejak saat itu, gerakan ini menyebar ke seluruh dunia dan resmi diakui oleh PBB pada tahun 1975.

Kenapa Identik dengan Warna Ungu?

IWD Logo

Mungkin kamu sering melihat logo IWD atau dekorasinya menggunakan warna ungu. Ternyata, warna ini punya makna mendalam, karena ungu melambangkan keadilan dan martabat. Hijau melambangkan harapan, dan putih melambangkan kemurnian (meskipun putih sudah jarang digunakan sekarang). Jadi, saat kamu memakai atribut ungu di tanggal 8 Maret, kalian sedang menyuarakan dukungan untuk keadilan bagi seluruh perempuan di dunia.

Dan di tahun 2026 ini, tantangan perempuan sudah bergeser. Kalau dulu perjuangannya soal hak suara dan jam kerja, sekarang fokusnya adalah kesetaraan di dunia digital. Perempuan kini dituntut untuk nggak cuma jadi penonton teknologi, tapi juga jadi kreator, pengembang AI, hingga pemimpin perusahaan startup. Literasi digital menjadi senjata baru untuk pemberdayaan ekonomi perempuan di seluruh penjuru dunia.

Memperingati Hari Wanita Internasional adalah cara kita menghargai progres yang sudah dicapai, sekaligus pengingat bahwa jalan menuju kesetaraan yang ideal masih panjang. Untuk mewujudkan hal itu, pendidikan menjadi kunci utama. Perempuan butuh lingkungan belajar yang inklusif dan melek teknologi agar bisa bersaing secara global.

Womens

Telkom University Jakarta sangat mendukung semangat pemberdayaan ini. Dengan ekosistem pendidikan yang kental dengan nuansa teknologi dan inovasi digital, kami percaya bahwa setiap perempuan memiliki potensi luar biasa untuk menjadi pemimpin di industri masa depan. Di sini, kamu nggak cuma belajar teori, tapi juga dibentuk menjadi pribadi yang adaptif dan solutif. Yuk, rayakan keberanianmu dan bangun karier cemerlang di dunia digital bareng kami di Telkom University Jakarta!

Selamat Hari Wanita Internasional untuk seluruh perempuan hebat di luar sana!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Secret Link