Di lingkungan kampus hari ini, banyak mahasiswa bukan hanya sibuk mengejar nilai tinggi atau mempersiapkan karir masa depan, tapi juga diam-diam berlomba untuk nggak ketinggalan “pencapaian” orang lain. Fenomena ini sering disebut FOMO Akademik (Fear of Missing Out secara akademik). Dan ini bukan sekadar rasa penasaran biasa—tapi bisa jadi pemicu burnout, cemas berlebihan, sampai kehilangan arah prioritas kuliah. Banyak TelUtizen atau mahasiswa lain yang merasa kalau temannya ikut lomba nasional, dia juga harus ikut. Kalau temannya magang dua tempat sekaligus, dia juga merasa perlu. Kalau ada teman yang udah mulai skripsi lebih dulu, dia ikut terburu-terburu padahal belum siap. Akhirnya, bukannya fokus pada progress diri sendiri, mahasiswa jadi sibuk membandingkan timeline orang lain, tanpa menyadari bahwa setiap orang punya waktu dan pace pertumbuhan masing-masing.
FOMO Akademik sebenarnya bukan hal baru. Media sosial hanya memperparah. Instagram Story yang menunjukkan achievement, LinkedIn filled dengan announcement “Accepted Internship here…”, “Got selected for…”, dan lain-lain. Lama-lama kita merasa bahwa kalau kita nggak mengisi hari-hari kuliah dengan achievement besar, berarti kita stagnan. Dan inilah titik di mana burnout sering dimulai. Mahasiswa jadi merasa harus ambil semua peluang bahkan saat tubuh dan mental belum mampu. Padahal, kualitas perjalanan akademik bukan diukur dari seberapa banyak badge prestasi dikoleksi, tapi pada seberapa relevan perjalanan itu pada tujuan hidup dan arah karirmu.
Untuk keluar dari jebakan FOMO Akademik ini, kamu harus mulai membangun kesadaran bahwa nggak semua kesempatan harus kamu kejar. Pilih yang tepat buatmu. Pahami bahwa “Tidak mengambil semuanya” bukan berarti kamu malas atau tidak ambisius, justru adalah keputusan strategis yang matang. Mulai dari: memilih aktivitas organisasi yang relevan dengan jurusanmu, memilih lomba yang benar-benar ingin kamu eksplor, memilih kelas dan program pengembangan diri yang memberikan value nyata jangka panjang. Fokuslah pada kualitas bukan kuantitas. Dan yang paling penting, stop membandingkan timeline hidupmu dengan timeline orang lain. Hidup itu bukan kompetisi kecepatan, tapi perjalanan masing-masing orang dengan peta tujuan yang berbeda.
Kamu juga perlu belajar mengenali tanda awal burnout: cepat capek, overthinking, sulit fokus, merasa worthless, atau kehilangan motivasi padahal kegiatan banyak. Kalau ini muncul, evaluasi ulang apa yang kamu kejar. Buat batasan waktu dan energy budget untuk diri sendiri. Belajar bilang tidak. Belajar mengambil jeda. Rehat bukan mundur, tapi reset sebelum melaju lebih jauh. Bahkan para high achiever pun punya masa jeda untuk merapikan mental agar tetap waras.
Pada akhirnya, perjalanan akademik yang sehat bukan soal tampil paling ramai di resume, tapi soal menjadi manusia yang tumbuh secara mental, intelektual, dan emosional. Dan setiap mahasiswa berhak menjalani perjalanan akademiknya dengan ritme yang waras dan sustainable.
Sebagai kampus yang mengusung budaya inovasi, pertumbuhan, dan keseimbangan, Telkom University Jakarta terus mendorong mahasiswa untuk tidak hanya berprestasi, tapi juga merawat kesehatan mental, fokus pada relevansi, dan mengambil keputusan akademik yang selaras dengan jati diri masing-masing. Karena kampus adalah tempat untuk membangun masa depan, bukan arena kompetisi untuk saling melelahkan.
Penulis : Siti Zakiyah | Editor : Husna Rahmi
Baca Juga : 10 Hal yang Pasti Dialami Maba Saat PKKMB
Baca Juga : Apa Itu PKKMB? Fakta, Tujuan, dan Manfaatnya Bagi Maba
Baca Juga : Apa yang Akan Kamu Ingat dari Kuliah 10 Tahun Lagi?
