Mengenal Kisah di Balik Peringatan Jumat Agung

Jumat Agung

Kalau kita melihat kalender, setiap tahunnya ada momen di mana suasana terasa lebih tenang dan khidmat, tepatnya saat peringatan Jumat Agung atau Wafat Isa Al Masih. TelUtizen mungkin sering bertanya-tanya, sebenarnya apa sih yang terjadi pada hari itu? Mengapa hari yang menceritakan sebuah duka justru disebut sebagai “Good Friday” atau Jumat yang Baik dalam bahasa Inggris? Yuk, kita bahas ceritanya dengan lebih santai.

Perjalanan Menuju Golgota

Kisah Jumat Agung bermula dari kegetiran di Taman Getsemani, tempat Isa Al Masih bergumul dalam doa sebelum akhirnya dikhianati oleh murid-Nya sendiri. Penangkapan tersebut membawa-Nya ke serangkaian peradilan yang berat sebelah, mulai dari pemeriksaan di hadapan Imam Besar hingga pengadilan Romawi di bawah Pontius Pilatus. Meskipun tidak ditemukan kesalahan yang mendasar, tekanan massa akhirnya membuat Pilatus menjatuhkan vonis hukuman mati.

Momen paling menyayat terjadi saat perjalanan menuju eksekusi; dengan tubuh yang penuh luka akibat siksaan dan kepala yang mengenakan mahkota duri, Ia dipaksa memikul salib kayu yang sangat berat menyusuri jalanan Yerusalem yang terjal. Puncaknya terjadi di Bukit Golgota, tempat di mana Ia dipaku dan wafat di atas kayu salib sebagai bentuk pengorbanan tertinggi. Secara tradisional, umat beriman memperingati puncak peristiwa ini tepat pada pukul tiga sore—sebuah waktu yang dianggap sakral untuk merenungkan kesunyian dan kedalaman kasih yang telah tuntas diberikan bagi kemanusiaan.

Mengapa Disebut “Jumat Agung”?

Mungkin terdengar kontradiktif, ya? Mengapa sebuah peristiwa kematian justru disebut “Agung”? Dalam perspektif sejarah dan keyakinan Kristiani, hari ini dianggap “Agung” karena hasil akhirnya. Kematian tersebut dipandang sebagai jalan pembuka bagi pengampunan, kasih, dan harapan baru bagi banyak orang. Jadi, alih-alih hanya berfokus pada rasa sedihnya, sebutan tersebut lebih menyoroti tentang besarnya kasih yang diberikan untuk sesama.

Di Indonesia sendiri, peringatan ini menjadi salah satu potret indahnya toleransi. Meski yang merayakan adalah umat Kristiani, suasana damai dan saling menghargai tetap terasa di tengah masyarakat yang beragam. Ini membuktikan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan pengorbanan adalah bahasa universal yang bisa dipahami oleh siapa saja.

Cerita tentang Jumat Agung mengajarkan kita satu hal penting: bahwa hal-hal besar seringkali membutuhkan perjuangan dan keteguhan hati. Begitu juga dalam mengejar impian atau membangun masa depan. Tidak ada jalan yang benar-benar mulus, tapi dengan fokus dan semangat yang benar, hasil yang baik pasti akan menanti di ujung jalan.

 

Semangat untuk terus memberikan yang terbaik dan pantang menyerah dalam menghadapi tantangan adalah karakter yang selalu kami dukung di Telkom University Jakarta. Kami percaya bahwa pendidikan yang berkualitas harus dibarengi dengan lingkungan yang suportif dan penuh nilai-nilai positif.

Sebagai kampus yang telah mengantongi sertifikasi ISO 21001:2018, Telkom University Jakarta berkomitmen memberikan layanan pendidikan dengan standar internasional untuk memastikan masa depanmu terancang dengan baik. Dengan fasilitas laboratorium modern dan kurikulum yang selalu up-to-date dengan industri digital, kami siap menemanimu bertransformasi menjadi talenta hebat di masa depan. Mari bangun karya dan raih cita-citamu bersama institusi swasta terbaik di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Secret Link