HEI TelUtizen! Siapa sih di sini yang belakangan ini hidupnya nggak terbantu sama kehadiran Artificial Intelligence atau AI? Mulai dari minta tolong ChatGPT bikinin caption Instagram, sampai pakai Midjourney buat bikin gambar keren dalam hitungan detik. AI seolah jadi “pahlawan super” baru yang bikin hidup kita makin praktis. Tapi, pernah kepikiran nggak sih, di balik segala kecanggihannya, ada “ongkos mahal” yang diem-diem sedang ditanggung oleh planet bumi kita?
Jangan salah sangka, AI itu nggak bekerja pakai sihir. Di balik respons cepat chatbot kesayanganmu, ada ribuan komputer server raksasa di pusat data (data center) yang bekerja sangat keras 24 jam nonstop.
Proses “Pintar” yang Bikin Bumi Gerah
Nah, di sinilah letak masalahnya. Proses melatih model AI agar jadi pintar—yang sering disebut training—itu membutuhkan daya komputasi yang luar biasa masif. Ini artinya, konsumsi energi AI sangatlah rakus!
Bayangkan, untuk melatih satu model AI skala besar saja, jejak karbon yang dihasilkan bisa setara dengan emisi lima mobil yang dipakai seumur hidup. Belum lagi fakta bahwa kebanyakan pusat data di dunia masih ditenagai oleh listrik dari pembakaran bahan bakar fosil.
Selain rakus listrik, server-server ini juga cepat panas dan butuh pendinginan ekstra. Sistem pendinginnya seringkali menggunakan air bersih dalam jumlah yang fantastis. Jadi, bisa dibilang bahaya AI bagi bumi saat ini adalah karena sifatnya yang “haus energi” dan “boros air“.
Kerugian Buat Kita Apa?
Kalau penggunaan sumber daya ini tidak dikontrol, kita sebagai manusia yang akan kena getahnya. Dampak lingkungan kecerdasan buatan yang paling terasa adalah percepatan perubahan iklim. Bumi makin panas, cuaca makin ekstrem, dan bencana alam jadi lebih sering terjadi. Selain itu, persaingan untuk mendapatkan air bersih antara kebutuhan pendingin data center raksasa dengan kebutuhan air minum masyarakat lokal bisa memicu krisis air di berbagai daerah.
Menyikapi dengan Bijak, Bukan Anti-Teknologi
Tenang, bukan berarti kita harus kembali ke zaman batu dan memusuhi teknologi, kok. Kuncinya adalah menjadi pengguna yang bijak. Kita perlu mendorong perusahaan teknologi besar untuk transparan soal jejak karbon mereka dan segera beralih ke energi terbarukan.
Sebagai pengguna individu, kita bisa mulai menggunakan AI dengan lebih sadar (mindful). Gunakan AI saat benar-benar dibutuhkan untuk efisiensi, bukan sekadar untuk iseng atau menanyakan hal-hal sepele yang bisa kita pikirkan sendiri. Kita butuh inovasi “Green AI”, yaitu pengembangan AI yang sejak awal dirancang untuk hemat energi.
Menyeimbangkan antara kemajuan inovasi digital dan kelestarian bumi adalah tantangan terbesar generasi kita. Kita butuh talenta-talenta digital yang nggak cuma jago coding, tapi juga punya kepedulian lingkungan. Nah, kalau kamu tertarik mendalami dunia teknologi masa depan tapi tetap ingin punya kontribusi positif bagi keberlanjutan bumi, Telkom University Jakarta adalah tempat yang tepat untuk bertumbuh. Di sini, kamu akan dibimbing untuk menjadi user digital yang bertanggung jawab dan siap menjawab tantangan zaman dengan solusi yang cerdas dan berkelanjutan.
Penulis : Siti Zakiyah | Editor : Husna Rahmi
Baca Juga : Kenapa Anak Muda Harus Melek Teknologi, Bukan Cuma Jadi Pengguna
Baca Juga : Gerakan 1 Juta Pohon: Tanam yang Benar, Bukan Asal Hijau
Baca Juga : Liburan Usai, Mental Jangan Terurai: Balik Kerja no Drama
