{"id":39504,"date":"2026-06-22T13:30:50","date_gmt":"2026-06-22T06:30:50","guid":{"rendered":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/?p=39504"},"modified":"2026-06-26T15:15:39","modified_gmt":"2026-06-26T08:15:39","slug":"imposter-syndrome-di-kampus-cara-mengatasinya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/imposter-syndrome-di-kampus-cara-mengatasinya\/","title":{"rendered":"Imposter Syndrome di Kampus &#038; Cara Mengatasinya"},"content":{"rendered":"<div class=\"wpb-content-wrapper\"><div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-6\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div  class=\"wpb_single_image wpb_content_element vc_align_center wpb_content_element\">\n\t\t\n\t\t<figure class=\"wpb_wrapper vc_figure\">\n\t\t\t<div class=\"vc_single_image-wrapper   vc_box_border_grey\"><img decoding=\"async\" width=\"2560\" height=\"2184\" src=\"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-1-_6_-1-scaled.webp\" class=\"vc_single_image-img attachment-full\" alt=\"Gambar ini ilustrasikan imposter syndrome, ketika seorang merasa kurang percaya diri atas kemampuan atau keberhasilan yang sebenarnya dimiliki.\" title=\"Gambar ini ilustrasikan imposter syndrome, ketika seorang merasa kurang percaya diri atas kemampuan atau keberhasilan yang sebenarnya dimiliki.\" srcset=\"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-1-_6_-1-scaled.webp 2560w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-1-_6_-1-300x256.webp 300w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-1-_6_-1-1024x874.webp 1024w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-1-_6_-1-768x655.webp 768w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-1-_6_-1-1536x1311.webp 1536w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-1-_6_-1-2048x1747.webp 2048w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-1-_6_-1-14x12.webp 14w\" sizes=\"(max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><\/div>\n\t\t<\/figure>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-6\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa mahasiswa kadang-kadang merasa kalau keberhasilan akademik yang mereka capai cuma sebuah faktor beruntung saja. Kerap kali muncul rasa takut yang terus jadi bayang-bayang kalau suatu hari nanti orang-orang yang ada di kampus baik itu dosen atau antar mahasiswa bakal sadar kalau mereka nyatanya tidak sekapabel yang dilihat selama ini. Kalau kamu pernah atau lagi terbebani sama perasaan itu, harus ingat ini! Kalau kamu tidak pernah sendiri saat hadapi kondisi ini. Kejadian psikologis ini biasa disebut dengan istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">imposter syndrome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau sindrom penipu. Di ranah perkuliahan yang penuh persaingan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">imposter syndrome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> jadi salah satu dampak negatif dari kesehatan mental yang acap kali dialami mahasiswa tapi jarang sekali dibahas secara gamblang. Ayo kita bedah lebih lengkap lagi\u00a0 apa sebenarnya fenomena ini dan bagaimana langkah konkret buat menanganinya.<\/span><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-12\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<h2><b>Apa Itu Imposter Syndrome di Lingkungan Kampus?<\/b><\/h2>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Imposter syndrome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bukan suatu gangguan jiwa, tapi efek dari psikologis saat seorang ragu soal kemampuan, prestasi, sama talenta mereka sendiri, dan punya rasa cemas berlebih yang selalu membayangi kalau mereka bakal dikira jadi &#8220;penipu&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di lingkungan akademik, kejadian <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">imposter syndrome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> banyak dialami oleh mahasiswa baru, mahasiswa tingkat akhir, sama mahasiswa pascasarjana. Karena kampus itu tempat kumpulnya orang-orang yang punya banyak prestasi, jadi waktu ada mahasiswa yang sudah biasa raih juara di sekolahnya lalu masuk ke lingkungan kampus, mereka jadi kaget karena tiba-tiba disekitarnya banyak orang lain yang jauh lebih pintar atau lebih aktif darinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">imposter syndrome <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ini bisa picu bias mental. Mahasiswa mulai merasa kalau pencapaian mereka lolos ke jurusan favorit, dapat beasiswa, atau raih nilai A itu cuma sebuah kekeliruan sistem atau sekadar beruntung saja, bukan karena kapasitas intelektual mereka yang sebenarnya.<\/span><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-12\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<h2><b>Gejala dan Karakteristik Imposter Syndrome pada Mahasiswa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk mengatasi masalah ini, kita harus mengenali manifestasinya dalam perilaku sehari-hari. Gejala imposter syndrome mahasiswa acap kali tersamarkan sebagai sifat perfeksionis atau dedikasi yang tinggi, padahal akar masalahnya adalah kecemasan. Berikut adalah beberapa karakteristik utamanya:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Perfeksionisme Akut:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Mahasiswa memasang target yang tidak realistis untuk diri mereka sendiri. Ketika mereka mendapatkan nilai 95 dari 100, mereka tidak fokus pada keberhasilannya, melainkan mengutuk diri atas kekurangan 5 poin tersebut.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Bekerja Berlebihan (<\/b><b><i>Overworking<\/i><\/b><b>):<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Demi menutupi ketakutan akan &#8220;ketahuan bahwa mereka bodoh&#8221;, mahasiswa akan belajar secara obsesif hingga mengorbankan waktu tidur, kesehatan fisik, dan kehidupan sosial.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Ketakutan Mendalam terhadap Kegagalan:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Bagi mereka, kegagalan akademik terkecil sekalipun adalah bukti nyata bahwa mereka memang tidak layak berada di kampus tersebut.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Menolak Pujian:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Saat dipuji oleh dosen atau rekan kelompok atas presentasi yang bagus, mereka cenderung mengecilkan pencapaian tersebut dengan kalimat seperti, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Ah, kebetulan saja topiknya mudah.&#8221;<\/span><\/i><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika dibiarkan tanpa penanganan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">imposter syndrome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini dapat memicu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">burnout<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, penurunan IPK, cemas berlebih, hingga depresi klinis yang mengganggu jalannya studi.<\/span><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n\n\t<div  class=\"wpb_single_image wpb_content_element vc_align_center wpb_content_element\">\n\t\t\n\t\t<figure class=\"wpb_wrapper vc_figure\">\n\t\t\t<div class=\"vc_single_image-wrapper   vc_box_border_grey\"><img decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"256\" src=\"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-2-_7__1-300x256.webp\" class=\"vc_single_image-img attachment-medium\" alt=\"ilustrasi imposter syndrome saat seorang yang berhasil dan berprestasi walau punya keraguan atau ketidakpastian terhadap dirinya sendiri.\" title=\"ilustrasi imposter syndrome saat seorang yang berhasil dan berprestasi walau punya keraguan atau ketidakpastian terhadap dirinya sendiri.\" srcset=\"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-2-_7__1-300x256.webp 300w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-2-_7__1-1024x874.webp 1024w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-2-_7__1-768x655.webp 768w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-2-_7__1-1536x1311.webp 1536w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-2-_7__1-2048x1747.webp 2048w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-2-_7__1-14x12.webp 14w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/div>\n\t\t<\/figure>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-12\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<h2><b>Mengapa Lingkungan Akademik Menjadi &#8220;Lahan Subur&#8221; Imposter Syndrome?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dunia perkuliahan memiliki struktur unik yang secara tidak sengaja memupuk tumbuhnya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">imposter syndrome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Pertama, adanya budaya perbandingan yang konstan. Melalui media sosial maupun interaksi di kelas, mahasiswa terus-menerus disuguhi pencapaian orang lain: magang di perusahaan multinasional, menang lomba esai nasional, atau aktif di tiga organisasi sekaligus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, sistem penilaian yang kaku. IPK, standarisasi nilai kurva, dan kompetisi memperebutkan predikat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cum laude<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> membuat mahasiswa merasa harga diri mereka hanya ditentukan oleh angka-angka di transkrip nilai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, kurangnya transparansi mengenai proses. Kita sering melihat hasil akhir yang gemilang dari teman kita, tetapi kita jarang melihat proses berdarah-darah, kegagalan, dan air mata di baliknya. Hal ini menciptakan ilusi bahwa orang lain meraih kesuksesan dengan sangat mudah, sementara hanya kita sendiri yang harus bersusah payah untuk bertahan.<\/span><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-12\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<h2><b>Panduan Praktis: Cara Mengatasi Imposter Syndrome Saat Kuliah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kabar baiknya, pola <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">imposter syndrome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini bisa diubah. Cara mengatasi i<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mposter syndrome <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">membutuhkan latihan kognitif yang konsisten dan kemauan untuk mengubah cara kamu memandang diri sendiri. Berikut adalah langkah-langkah praktisnya:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\">\n<h3><b>Dokumentasikan Pencapaian Kamu (<\/b><b><i>The Fact Journal<\/i><\/b><b>)<\/b><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika perasaan &#8220;saya tidak tahu apa-apa&#8221; muncul, lawan dengan fakta empiris. Buatlah catatan digital atau jurnal berisi pencapaian kamu seperti, sertifikat yang diraih, email pujian dari dosen, tugas-tugas yang mendapat nilai bagus, atau rintangan akademik yang berhasil kamu lewati. Fakta objektif ini adalah obat paling mujarab untuk melawan suara-suara negatif di kepala kamu.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\">\n<h3><b>Ubah Perspektif tentang Kegagalan<\/b><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sadarilah bahwa dalam dunia akademik, melakukan kesalahan dan tidak tahu akan suatu hal adalah bagian dari proses belajar. Kampus adalah tempat untuk belajar, bukan tempat di mana kamu harus sudah tahu segalanya. Ubah pola pikir dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Saya tidak bisa, saya bodoh&#8221;<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Saya belum bisa, tapi saya bisa mempelajarinya&#8221;<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\">\n<h3><b>Buka Obrolan dan Berbagi Cerita<\/b><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu kekuatan terbesar dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">imposter syndrome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah kemampuannya membuat kamu merasa terisolasi. Ketika kamu berani membuka diri dan bercerita kepada teman dekat, senior, atau dosen wali, kamu akan terkejut mendapati bahwa sebagian besar dari mereka juga merasakan hal yang persis sama. Berbagi beban emosional akan mengurangi intensitas kecemasan kamu.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\">\n<h3><b>Berhenti Membandingkan &#8220;Behind the Scenes&#8221; Kamu dengan &#8220;Highlight Reel&#8221; Orang Lain<\/b><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang ditampilkan orang lain di LinkedIn atau Instagram adalah versi terbaik dari hidup mereka (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">highlight reel<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Jangan membandingkan proses internal kamu yang penuh keraguan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">behind the scenes<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) dengan hasil akhir orang lain yang sudah disaring. Fokuslah pada progres diri sendiri dari hari ke hari.<\/span><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-6\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p><b>Imposter syndrome di lingkungan kampus<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah tantangan psikologis yang valid dan sangat melelahkan. Namun, ingatlah satu hal penting: panitia seleksi kampus, dosen penguji, dan sistem akademik tidak salah dalam menilai kamu. Kamu berada di universitas atau jurusan kamu hari ini karena kerja keras, kompetensi, dan kapasitas intelektual yang kamu miliki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mulailah berdamai dengan kekurangan diri, rayakan setiap kemenangan kecil, dan jangan ragu untuk mencari bantuan ke pusat konseling mahasiswa di kampus jika tekanan yang dirasakan sudah terlalu berat. Kampus adalah tempat kamu bertumbuh, dan kamu sepenuhnya layak berada di sana.<\/span><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-6\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div  class=\"wpb_single_image wpb_content_element vc_align_center wpb_content_element\">\n\t\t\n\t\t<figure class=\"wpb_wrapper vc_figure\">\n\t\t\t<div class=\"vc_single_image-wrapper   vc_box_border_grey\"><img decoding=\"async\" width=\"2560\" height=\"2184\" src=\"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-3-Imposter-Syndrome-_1_-scaled.webp\" class=\"vc_single_image-img attachment-full\" alt=\"Ilustrasi lampu sorot menyinari siluet manusia dengan bayangan tanda tanya melambangkan imposter syndrome atau keraguan diri\" title=\"Ilustrasi lampu sorot menyinari siluet manusia dengan bayangan tanda tanya melambangkan imposter syndrome atau keraguan diri\" srcset=\"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-3-Imposter-Syndrome-_1_-scaled.webp 2560w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-3-Imposter-Syndrome-_1_-300x256.webp 300w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-3-Imposter-Syndrome-_1_-1024x874.webp 1024w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-3-Imposter-Syndrome-_1_-768x655.webp 768w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-3-Imposter-Syndrome-_1_-1536x1311.webp 1536w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-3-Imposter-Syndrome-_1_-2048x1747.webp 2048w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar-3-Imposter-Syndrome-_1_-14x12.webp 14w\" sizes=\"(max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><\/div>\n\t\t<\/figure>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div>\n<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"Beberapa mahasiswa kadang-kadang merasa kalau keberhasilan akademik yang mereka capai cuma sebuah faktor beruntung saja. Kerap kali muncul rasa takut yang terus jadi bayang-bayang kalau suatu hari nanti orang-orang yang ada di kampus baik itu dosen atau antar mahasiswa bakal sadar kalau mereka nyatanya tidak sekapabel yang dilihat selama ini. Kalau kamu pernah atau lagi [...]","protected":false},"author":37,"featured_media":39506,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"wds_primary_category":0,"footnotes":""},"categories":[300],"tags":[2121,2118,2119,2120],"class_list":["post-39504","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-dunia-kampus","tag-imposter-syndrome","tag-kesehatan-mental-mahasiswa","tag-psikologi-kampus"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39504","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/37"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=39504"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39504\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":39513,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39504\/revisions\/39513"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/39506"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=39504"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=39504"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=39504"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}