{"id":39377,"date":"2026-05-29T13:30:38","date_gmt":"2026-05-29T06:30:38","guid":{"rendered":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/?p=39377"},"modified":"2026-05-29T15:32:17","modified_gmt":"2026-05-29T08:32:17","slug":"sejarah-kriptografi-dan-perkembangan-sandi-rahasia-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/sejarah-kriptografi-dan-perkembangan-sandi-rahasia-dunia\/","title":{"rendered":"Sejarah Kriptografi dan Perkembangan Sandi Rahasia Dunia"},"content":{"rendered":"<div class=\"wpb-content-wrapper\"><div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-6\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div  class=\"wpb_single_image wpb_content_element vc_align_center wpb_content_element\">\n\t\t\n\t\t<figure class=\"wpb_wrapper vc_figure\">\n\t\t\t<div class=\"vc_single_image-wrapper   vc_box_border_grey\"><img decoding=\"async\" width=\"2560\" height=\"2184\" src=\"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-3-scaled.webp\" class=\"vc_single_image-img attachment-full\" alt=\"kriptografi yang menggunakan metode scytale\" title=\"kriptografi yang menggunakan metode scytale\" srcset=\"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-3-scaled.webp 2560w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-3-300x256.webp 300w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-3-1024x874.webp 1024w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-3-768x655.webp 768w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-3-1536x1311.webp 1536w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-3-2048x1747.webp 2048w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-3-14x12.webp 14w\" sizes=\"(max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><\/div>\n\t\t<\/figure>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-6\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah dari ribuan tahun lalu, manusia pasti punya keinginan buat lindungi pesan penting dan rahasia dari pihak musuh. Entah itu saat bahas misi diplomatik rahasia, rencanakan strategi medan perang, sampai negosiasi finansial modern di era digital. Keamanan informasi itu segala-galanya. Ilmu sama seni khusus buat amankan pesan ini yang sekarang kita tahu sebagai kriptografi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahu tidak? Kata kriptografi itu sendiri datangnya dari bahasa Yunani, ialah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kryptos<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (sembunyi) sama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">graphein<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (tulis). Kalau dilihat dari sisi harfiahnya, kriptografi artinya tulisan rahasia. Perjalanan panjang dari sejarah kriptografi begitu deskripsikan evolusi sivilisasi manusia, mulai dari pahat-memahat batu kuno, proses mesin mekanik yang sulit, sama algoritma basisnya komputer yang amankan mata uang kripto (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cryptocurrency<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) hari ini.<\/span><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-12\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ayo kita pelajari garis masa sejarah kriptografi dan bagaimana sih kemajuan sandi rahasia yang sudah ubah arah sejarah dunia.<\/span><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<h2><b>Era Kuno Kriptografi Klasik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kriptografi di masa awal-awal dulu, berpegang erat sekali ke kreativitas sama cerdasnya manusia dalam tuangkan imajinasi visual, dan di saat itu belum ada bantuan dari komputasi rumit kayak sekarang. Proses yang dipakai di era ini umumnya dibagi jadi dua strategi dasar substitusi (ganti huruf) sama transposisi (acak urutan huruf).<\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\">\n<h3><b>Hieroglif Non-Standar di Mesir Kuno (Masehi Kuno)<\/b><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu bukti tertua soal pemakaian kriptografi didapati di makam seorang bangsawan Mesir yang namanya Khnumhotep II. Bangsawan ini diperkirakan hidup di zaman sekitaran tahun 1900 SM. Di sini, sang juru tulis pakai simbol-simbol hieroglif yang tidak biasa (non-standar) buat sembunyikan arti sesungguhnya di teks asli. Tujuannya bukan cuma buat rahasiakan pesan dari musuh, tapi buat ciptakan kesan agung dan ada vibes misteri bagi siapa saja yang baca teks itu.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\">\n<h3><b>Scytale dari Sparta (Abad ke-5 SM)<\/b><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bangsa Sparta di Yunani Kuno termaktub jadi salah satu peradaban pertama yang pakai alat bantu militer buat kriptografi, dan itu disebut Scytale. Alat ini rupanya seperti silinder kayu panjang yang diameter sudah ditentukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat tulis pesan rahasia, selembar pita kulit panjang dibelitkan dengan bentuk kumpuran yang kelilingi batang silinder yang sudah disiapkan, terus pesan ditulis arahnya horizontal di bagian pitanya. Waktu pita kulit itu dilepas dari silinder, huruf-huruf di dalamnya bakal acak-acakan dan tidak punya makna. Pesan ini cuma bisa dibaca kalau penerima membelitkan balik pita itu di batang silinder yang punya diameter yang sama persis. Ini ialah contoh pertama dari teknik transposisi.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\">\n<h3><b>Caesar Cipher dari Romawi Kuno (Abad ke-1 SM)<\/b><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin metode kriptografi klasik yang terkenal sekali di dunia yaitu Caesar Cipher, yang dipakai sama jenderal besar Romawi, Julius Caesar, buat komunikasi sama para panglima perangnya secara rahasia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara kerja Caesar Cipher sederhana sekali tapi efektif di zamannya, yaitu dengan pakai teknik substitusi pergeseran huruf tunggal (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Monoalphabetic Substitution<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Tiap-tiap huruf di teks asli (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">plaintext<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) digeser sebanyak jumlah tertentu pada alfabet. Contohnya sama kayak pergeseran 3 langkah (Key = 3):<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Huruf <\/span><b>A<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> diubah jadi <\/span><b>D<\/b><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Huruf <\/span><b>B<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> diubah jadi <\/span><b>E<\/b><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Huruf <\/span><b>C<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> diubah jadi <\/span><b>F<\/b><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau Julius Caesar mau kirim kata &#8220;ROME&#8221;, pesan rahasia (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ciphertext<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) yang dikirim bentuknya jadi &#8220;URPH&#8221;. Buat orang awam di masa itu yang masih banyak yang buta huruf, pesan ini sulit sekali buat dipecahkan.<\/span><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-12\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<h2><b>Era Kriptanalisis dan Kebangkitan Ilmuwan Arab (Abad Pertengahan)<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama berabad-abad, kriptografi substitusi dipercaya tidak mungkin sekali buat ditembus. Tapi, peta kekuatan keamanan informasi ganti total di abad ke-9 Masehi, karena seorang ilmuwan Muslim jenius yang namanya Al-Kindi (Abu Yusuf Ya&#8217;qub ibn Ishaq al-Kindi).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Al-Kindi tulis sebuah kitab monumental yang punya judul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Risalah fi Istikhraj al-Mu&#8217;amma<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Risalah tentang Memecahkan Pesan Sandi). Isi dari buku itu, kenalkan metode Kriptanalisis (ilmu memecahkan cipher) pakai teknik Analisis Frekuensi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Al-Kindi sadar kalau dari tiap bahasa, huruf-huruf tertentu munculnya lebih sering dibanding huruf lainnya. Contoh, kalau di bahasa Inggris, huruf &#8216;E&#8217; sama &#8216;T&#8217; ialah huruf yang paling sering muncul. Dengan hitung jumlah kemunculan huruf di teks sandi yang panjang, seorang kriptanalis bisa tebak huruf substitusinya tanpa perlu tahu kunci aslinya. Ditemukannya analisis frekuensi ini, langsung saja runtuhkan kejayaan Caesar Cipher dan cipher substitusi tunggal lainnya.<\/span><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n\n\t<div  class=\"wpb_single_image wpb_content_element vc_align_center wpb_content_element\">\n\t\t\n\t\t<figure class=\"wpb_wrapper vc_figure\">\n\t\t\t<div class=\"vc_single_image-wrapper   vc_box_border_grey\"><img decoding=\"async\" width=\"2560\" height=\"2184\" src=\"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-2-1-scaled.webp\" class=\"vc_single_image-img attachment-full\" alt=\"kriptografi yang menggunakan metode caesar cipher\" title=\"kriptografi yang menggunakan metode caesar cipher\" srcset=\"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-2-1-scaled.webp 2560w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-2-1-300x256.webp 300w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-2-1-1024x874.webp 1024w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-2-1-768x655.webp 768w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-2-1-1536x1311.webp 1536w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-2-1-2048x1747.webp 2048w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-2-1-14x12.webp 14w\" sizes=\"(max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><\/div>\n\t\t<\/figure>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-12\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<h2><b>Era Renaisans dan Vigen\u00e8re Cipher (Abad ke-16)<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat kalahkan teknik analisis frekuensi Al-Kindi, para ahli kriptografi Eropa mulai kembangkan metode substitusi ganda (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Polyalphabetic Substitution<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Kulminasinya kejadian di\u00a0 abad ke-16 waktu seorang diplomat Prancis yang namanya Blaise de Vigen\u00e8re memasyhurkan sistem yang dinamakan Vigen\u00e8re Cipher.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Vigen\u00e8re Cipher pakai sebuah tabel alfabet yang ukurannya 26&#215;26 (disebut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tabula Recta<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) sama sebuah kata kunci (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">keyword<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) yang diulang-ulang terus sepanjang teks asli. Karena satu huruf yang sama bisa diubah jadi huruf sandi yang beda-beda dilihat dari di mana posisi kata kuncinya, dengan ini analisis frekuensi standar Al-Kindi pasti kalah telak. Selama nyaris tiga abad, Vigen\u00e8re Cipher dijuluki sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">le chiffre ind\u00e9chiffrable<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (sandi yang tidak dapat dipecahkan), sebelum akhirnya berhasil dikalahkan sama Friedrich Kasiski di abad ke-19.<\/span><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-12\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<h2><b>Era Perang Dunia dan Kriptografi Mekanikal (Abad ke-20)<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masuk di abad ke-20, perkembangan teknologi mekanik ubah wajah kriptografi secara drastis. Kecepatan perang modern tuntut pengiriman pesan rahasia yang cepat secara massal lewat gelombang radio, tapi harus dengan tingkat keamanan yang jauh lebih rumit buat dipecahkan.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\">\n<h3><b>Mesin Enigma Jerman dan Alan Turing<\/b><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau di sejarah Perang Dunia II, salah satu aktor kriptografi paling terkenal ialah mesin Enigma punya Nazi Jerman. Enigma ialah mesin cipher elektro-mekanikal yang bentuknya kayak mesin tik yang acak huruf pakai serangkaian rotor berputar. Tiap kali satu tombol ditekan, rotor bakal berputar dan ubah jalur sirkuit listrik, bikin kombinasi enkripsi berubah secara acak sampai miliaran kemungkinan. Militer Jerman ubah setelan kunci Enigma setiap hari, sampai bikin pihak sekutu frustrasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misi buat pecahkan Enigma lahirkan sejarah penting buat dunia komputer modern. Di Bletchley Park, Inggris, seorang matematikawan jenius yang namanya Alan Turing pimpin tim buat ciptakan Bombe. Sebuah mesin elektromekanis rahasia yang dibikin memang khusus buat susuri jutaan kombinasi Enigma dengan cepat. Keberhasilan Turing buat pecahkan kode Enigma tidak cuma selamatkan jutaan nyawa dan perpendek durasi perang dunia, tapi juga tempatkan fondasi dasar bagi ilmu komputer modern<\/span><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-12\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<h2><b>Era Digital dan Kriptografi Modern (Akhir Abad ke-20 &#8211; Sekarang)<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah Perang Dunia II dan lahirnya komputer digital, kriptografi tidak lagi pakai media fisik kayak kertas atau rotor mekanik, tapi pakai barisan data biner (0 dan 1) sama fungsi matematika yang rumit sekali.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\">\n<h3><b>Kriptografi Simetris (DES dan AES)<\/b><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tahun 1970-an, IBM kembangkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Data Encryption Standard<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (DES) buat jadi standar enkripsi komersial pertama. Tapi, seiring naiknya kecepatan komputer, DES berhasil buat dipecahkan. Di awal tahun 2000-an, dunia pindah ke AES (Advanced Encryption Standard) yang pakai panjang kunci sampai 256-bit. Enkripsi AES-256 kuat sekali, sampai-sampai superkomputer tercepat di dunia sekarang butuh waktu miliaran tahun buat pecahkannya lewat proses <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">brute-force<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\">\n<h3><b>Revolusi Kriptografi Asimetris (RSA)<\/b><\/h3>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai pertengahan 1970-an, semua sistem kriptografi wajibkan pengirim sama penerima berbagi kunci rahasia yang sama (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Symmetric Cryptography<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Masalah besarnya adalah bagaimana cara kirimkan kunci itu dengan aman ke seluruh dunia tanpa disadap?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah ini terpecahkan secara revolusioner sama Ron Rivest, Adi Shamir, dan Leonard Adleman di tahun 1977 lewat temuannya yaitu Algoritma RSA. Mereka kenalkan Kriptografi Asimetris (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Asymmetric Cryptography<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), yang pakai sepasang kunci:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Public Key (Kunci Publik):<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Boleh disebarkan ke siapa saja buat kunci (mengenkripsi) pesan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Private Key (Kunci Privat):<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Disimpan rahasia sama yang punya buat buka (mendekripsi) pesan.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teknologi inilah yang dasari protokol keamanan internet modern yang kita pakai sehari-hari sekarang, kayak HTTPS (waktu kita akses perbankan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">online<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), enkripsi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">end-to-end<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di WhatsApp, sampai verifikasi transaksi di teknologi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Blockchain<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sama mata uang kripto kayak Bitcoin.<\/span><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div><div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-6\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejarah panjang kriptografi membuktikan bahwa keamanan informasi adalah sebuah kompetisi abadi yang tidak pernah selesai. Setiap kali sebuah sandi baru yang dirasa &#8220;sempurna&#8221; diciptakan, para pembongkar sandi (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kriptanalis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) akan selalu menemukan cara untuk mematahkannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kini, di tengah ancaman komputer kuantum (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Quantum Computing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) yang berpotensi mampu memecahkan algoritma enkripsi modern dalam hitungan detik, para ilmuwan dunia sudah mulai mengembangkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Post-Quantum Cryptography<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Babak baru dalam sejarah tulisan rahasia dunia baru saja dimulai, dan peran kriptografi akan tetap krusial dalam menjaga privasi dan keamanan peradaban manusia di masa depan.<\/span><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-6\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div  class=\"wpb_single_image wpb_content_element vc_align_center wpb_content_element\">\n\t\t\n\t\t<figure class=\"wpb_wrapper vc_figure\">\n\t\t\t<div class=\"vc_single_image-wrapper   vc_box_border_grey\"><img decoding=\"async\" width=\"2560\" height=\"2184\" src=\"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-3-1-scaled.webp\" class=\"vc_single_image-img attachment-full\" alt=\"kriptografi modern menggunakan data biner\" title=\"kriptografi modern menggunakan data biner\" srcset=\"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-3-1-scaled.webp 2560w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-3-1-300x256.webp 300w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-3-1-1024x874.webp 1024w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-3-1-768x655.webp 768w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-3-1-1536x1311.webp 1536w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-3-1-2048x1747.webp 2048w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/Gambar-3-1-14x12.webp 14w\" sizes=\"(max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><\/div>\n\t\t<\/figure>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div>\n<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"Sudah dari ribuan tahun lalu, manusia pasti punya keinginan buat lindungi pesan penting dan rahasia dari pihak musuh. Entah itu saat bahas misi diplomatik rahasia, rencanakan strategi medan perang, sampai negosiasi finansial modern di era digital. Keamanan informasi itu segala-galanya. Ilmu sama seni khusus buat amankan pesan ini yang sekarang kita tahu sebagai kriptografi. Tahu [...]","protected":false},"author":37,"featured_media":39378,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_wds_title":"Sejarah Kriptografi dan Perkembangan Sandi Rahasia Dunia","_wds_metadesc":"Eksplorasi sejarah kriptografi, awal mula penemuan ilmu kriptanalisis, hingga peran pentingnya dalam mengamankan internet global.","_wds_focus-keywords":"Sejarah Kriptografi,Sandi Rahasia,Caesar Cipher","_wds_meta-robots-adv":"","_wds_meta-robots-noindex":false,"_wds_meta-robots-nofollow":false,"_wds_meta-robots-index":false,"_wds_meta-robots-follow":false,"_wds_autolinks-exclude":false,"_wds_canonical":"","_wds_opengraph":[],"_wds_twitter":[],"wds_primary_category":0,"footnotes":""},"categories":[300],"tags":[2062,1203,2061,2063,2060,2059],"class_list":["post-39377","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-caesar-cipher","tag-enkripsi-data","tag-ilmu-sandi","tag-mesinenigma","tag-sandi-rahasia","tag-sejarah-kriptografi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39377","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/37"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=39377"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39377\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":39383,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39377\/revisions\/39383"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/39378"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=39377"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=39377"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=39377"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}