{"id":38923,"date":"2026-03-19T08:30:09","date_gmt":"2026-03-19T01:30:09","guid":{"rendered":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/?p=38923"},"modified":"2026-03-25T08:54:34","modified_gmt":"2026-03-25T01:54:34","slug":"sehari-tanpa-aktivitas-uniknya-perayaan-nyepi-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/sehari-tanpa-aktivitas-uniknya-perayaan-nyepi-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Sehari Tanpa Aktivitas: Uniknya Perayaan Nyepi di Indonesia"},"content":{"rendered":"<div class=\"wpb-content-wrapper\"><div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-12\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p>Pernahkah TelUtizen membayangkan sebuah kota atau bahkan satu pulau besar tiba-tiba &#8220;mati&#8221; total? Tidak ada suara kendaraan, tidak ada lampu yang menyala saat malam hari, bahkan jaringan internet pun dimatikan. Pemandangan unik ini bisa kita temukan di Indonesia, tepatnya saat umat Hindu merayakan <strong>Hari Raya Nyepi<\/strong>.<\/p>\n<p>Nyepi sebenarnya adalah perayaan <strong>Tahun Baru Saka<\/strong>. Berbeda dengan perayaan tahun baru masehi yang identik dengan kembang api dan pesta pora, Nyepi justru dirayakan dalam kesunyian total. Tujuannya sederhana namun mendalam adalah untuk menyucikan <em>bhuana alit<\/em> (diri manusia) dan <em>bhuana agung<\/em> (alam semesta).<\/p>\n<p><strong>Ritual di Balik Kesunyian<\/strong><\/p>\n<p>Sebelum hari H Nyepi tiba, biasanya suasana sudah mulai meriah dengan upacara <strong><em>Melasti<\/em><\/strong> (penyucian benda sakral ke laut) dan ritual <strong><em>Pengrupukan<\/em><\/strong>. Di malam <em>Pengrupukan<\/em>, kalian sering melihat pawai Ogoh-ogoh\u2014boneka raksasa simbol elemen negatif\u2014yang nantinya akan dibakar. Namun, begitu jam menunjukkan pukul 06.00 pagi keesokan harinya, seluruh keriuhan itu hilang seketika.<\/p>\n<p>Selama 24 jam penuh, umat Hindu melaksanakan <strong><em>Catur Brata Penyepian<\/em><\/strong>, yaitu empat pantangan utama yang wajib dijalankan:<\/p>\n<ol>\n<li><strong><em>Amati Geni<\/em><\/strong><strong>:<\/strong> Tidak boleh menyalakan api atau lampu. Saat malam tiba, lingkungan akan gelap gulita. Ini juga simbol mengendalikan api amarah dalam diri.<\/li>\n<li><strong><em>Amati Karya<\/em><\/strong><strong>:<\/strong> Tidak boleh bekerja atau melakukan aktivitas fisik. Semua orang tinggal di rumah untuk fokus pada ketenangan.<\/li>\n<li><strong><em>Amati Lelunganan<\/em><\/strong><strong>:<\/strong> Tidak boleh bepergian. Jalanan akan benar-benar kosong, hanya dijaga oleh <em>Pecalang<\/em> (petugas keamanan adat) yang memastikan situasi tetap kondusif.<\/li>\n<li><strong><em>Amati Lelanguan<\/em><\/strong><strong>:<\/strong> Tidak boleh menikmati hiburan. Tidak ada musik, televisi, apalagi gadget untuk sekadar <em>scrolling<\/em> media sosial.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Keindahan dalam Gelap<\/strong><\/p>\n<p>Meski terdengar sangat ketat, Nyepi memberikan dampak yang luar biasa. Bagi mereka yang merayakannya di Bali, malam Nyepi adalah waktu terbaik untuk melihat langit. Tanpa adanya polusi cahaya, jutaan bintang akan terlihat sangat jelas dengan mata telanjang. Secara ekologis, Nyepi juga menjadi waktu bagi bumi untuk &#8220;bernafas&#8221; sejenak dari polusi kendaraan dan aktivitas manusia.<\/p>\n<p>Setelah 24 jam berlalu, ritual diakhiri dengan <strong><em>Ngembak Geni<\/em><\/strong>. Di momen ini, umat Hindu biasanya mulai keluar rumah untuk mengunjungi keluarga dan tetangga guna saling memaafkan, mirip dengan tradisi bermaaf-maafan saat Idul Fitri.<\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n\n\t<div  class=\"wpb_single_image wpb_content_element vc_align_center wpb_content_element\">\n\t\t\n\t\t<figure class=\"wpb_wrapper vc_figure\">\n\t\t\t<div class=\"vc_single_image-wrapper   vc_box_border_grey\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"687\" src=\"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Webp-Offering-Nyepi-1024x687.webp\" class=\"vc_single_image-img attachment-large\" alt=\"Offering Nyepi\" title=\"Offering Nyepi\" srcset=\"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Webp-Offering-Nyepi-1024x687.webp 1024w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Webp-Offering-Nyepi-300x201.webp 300w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Webp-Offering-Nyepi-768x515.webp 768w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Webp-Offering-Nyepi-1536x1030.webp 1536w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Webp-Offering-Nyepi-150x100.webp 150w, https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Webp-Offering-Nyepi.webp 1610w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/div>\n\t\t<\/figure>\n\t<\/div>\n\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p>Menghargai tradisi dan keragaman budaya seperti Nyepi adalah bagian dari karakter bangsa yang inklusif. Semangat untuk terus belajar dan memahami nilai-nilai di sekitar kita juga menjadi landasan utama di Telkom University Jakarta. Sebagai institusi pendidikan yang berfokus pada teknologi, kami percaya bahwa inovasi masa depan harus tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan etika yang kuat.<\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div>\n<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"Pernahkah TelUtizen membayangkan sebuah kota atau bahkan satu pulau besar tiba-tiba \"mati\" total? Tidak ada suara kendaraan, tidak ada lampu yang menyala saat malam hari, bahkan jaringan internet pun dimatikan. Pemandangan unik ini bisa kita temukan di Indonesia, tepatnya saat umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Nyepi sebenarnya adalah perayaan Tahun Baru Saka. Berbeda dengan [...]","protected":false},"author":30,"featured_media":38926,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"wds_primary_category":0,"footnotes":""},"categories":[29],"tags":[1867,1343,1866],"class_list":["post-38923","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-catur-brata-penyepian","tag-hari-raya-nyepi","tag-tradisi-nyepi-di-bali"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38923","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/30"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=38923"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38923\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":38939,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38923\/revisions\/38939"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/38926"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=38923"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=38923"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=38923"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}