{"id":24014,"date":"2024-09-24T14:00:51","date_gmt":"2024-09-24T07:00:51","guid":{"rendered":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/?p=24014"},"modified":"2024-09-26T14:37:59","modified_gmt":"2024-09-26T07:37:59","slug":"hubungan-mental-health-dan-kesehatan-fisik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/hubungan-mental-health-dan-kesehatan-fisik\/","title":{"rendered":"BTE TEA TIME 2024: Hubungan antara mental dan kesehatan fisik"},"content":{"rendered":"<div class=\"wpb-content-wrapper\"><div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid\"><div class=\"wpb_column vc_column_container vc_col-sm-12\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<h1 style=\"text-align: center;\"><strong>BTE TEA TIME 2024: Hubungan antara mental dan kesehatan fisik<\/strong><\/h1>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p>Kesehatan mental dan fisik sering kali dianggap sebagai dua hal yang terpisah. Padahal, keduanya saling berkaitan erat dan saling mempengaruhi. Seperti dua sisi mata uang, kesehatan mental yang baik akan berdampak positif pada kesehatan fisik, begitu pula sebaliknya.<\/p>\n<p><strong><em>\u201cThe Connection: Mind and Health\u201d<\/em><\/strong> merupakan tema materi ke dua yang dibahas pada kegiatan <a href=\"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/bte-tea-time-2024\/\">BTE TEA TIME 2024<\/a>. Materi ini dibawakan oleh seorang <em>Clinical Psychologist<\/em>, Ardi Dwi Afandi, S.Psi., M.Psi, Psikolog, yang memiliki pengalaman di berbagai institusi kesehatan dan beliau kini berpraktik di Klinik Utama Keisya Semplak, Rumah Sakit Kaya Bhakti Pratiwi.<\/p>\n<p>Hubungan antara pikiran (<em>psyche<\/em>), emosi, dan psikologis seseorang dengan kondisi fisik atau tubuh (<em>soma<\/em>) disebut juga Psikosomatis. Artinya bahwa kondisi psikologis seseorang dapat mempengaruhi kesehatan fisiknya dan sebaliknya, kesehatan fisik juga dapat mempengaruhi kondisi psikologis.<\/p>\n<p>\u201cPsikosomatis mencakup berbagai kondisi medis yang diyakini memiliki hubungan erat dengan faktor psikologis, seperti stres, kecemasan ataupun depresi\u201d ucap Psikolog Ardi. Faktor-faktor yang disebutkan oleh Psikolog Ardi juga dapat menjadi faktor yang berkontribusi pada gangguan medis seperti <strong>Insomnia<\/strong> (gangguan tidur) dan <strong>GERD<\/strong> (<em>Gastroesophageal Reflux Disease<\/em>).<\/p>\n<p>Lalu bagaimana psikosomatis dapat mempengaruhi GERD? Stres dan kecemasan dapat meningkatkan produksi asam lambung, sehingga mengganggu kinerja <strong><em>sfingter esofagus<\/em><\/strong> (organ tubuh yang memiliki fungsi mencegah asam lambung kembali ke kerongkongan). Akibatnya seseorang yang mengalami kecemasan dan stres kronis memiliki kemungkinan untuk memicu peningkatan gejala GERD, seperti <em>heartburn<\/em>, regurgitasi asam, atau rasa tidak nyaman pada dada. Dengan gejala-gejala yang ditimbulkan oleh gangguan psikosomatis seperti tadi perlu ditangani dengan pengobatan secara Holistik.<\/p>\n<p>Psikolog Ardi juga membahas tentang hubungannya kesehatan mental dan mahasiswa, di mana ada suatu kondisi yang sering dialami oleh mahasiswa yakni <strong>Demotivasi dalam kuliah<\/strong>. Demotivasi adalah keadaan ketika seseorang merasa lelah, ingin menyerah, dan ingin berhenti melakukan sebuah rutinitas (khususnya dalam perkuliahan).<\/p>\n<p>Keadaan demotivasi ini berpengaruh pada belajar. Misal menjadi jenuh dengan mata kuliah dan akhirnya hilang semangat serta tidak peduli dengan nilai akhir dan bagaimana nasib dari tugas-tugas yang sudah dilakukannya, hal ini mungkin terjadi dikarenakan mahasiswa sudah mengalami burnout dan lelah secara mentalnya.<\/p>\n<p>Selain gangguan psikosomatis yang disebabkan oleh beban kuliah, hubungan <em>interpersonal<\/em> para mahasiswa juga sangat berpengaruh pada kesehatan mentalnya. Patah hati atau putus cinta sering kali meninggalkan kesedihan, kesepian, kemarahan, dan bahkan ketakutan. Seseorang yang sedang mengalami patah hati juga kerap kali tidak menyadari bahwa kesedihan yang mereka alami sudah berkembang menjadi depresi, dan hal ini juga dapat menjadi faktor demotivasi mahasiswa dalam perkuliahannya.<\/p>\n<p>Untuk mengatasi hal-hal tersebut, individu terkait dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:<\/p>\n<ul>\n<li>Mengakui perasaan sedih yang dialami<\/li>\n<li>Tidak menyalahkan siapapun termasuk diri sendiri<\/li>\n<li>Membahagiakan diri sendiri<\/li>\n<li><em>Social media detox<\/em><\/li>\n<li>Melakukan sesuatu yang sempat tertunda<\/li>\n<li>Mencari <em>support system<\/em> untuk diri<\/li>\n<li>Melakukan hal-hal yang belum pernah dicoba<\/li>\n<\/ul>\n<p>Dengan demikian menjaga mental yang sehat artinya akan membantu kesehatan fisik kita juga. Menjaga makan dan olahraga teratur serta tidur dan istirahat yang cukup juga dapat menjadi salah satu upaya yang penting dalam menjaga kesehatan mental dan fisik kita. Oleh karena itu mulai hidup sehat dari sekarang yuk TelUtizen Jakarta!<\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p><strong>Penulis : Siti Zakiyah | Editor : Husna Rahmi<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Baca Juga :\u00a0<a href=\"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/kesehatan-ginjal\/\">BTE TEA TIME 2024: Ngobrol Santai Soal Kesehatan Ginjal<\/a><\/strong><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div>\n<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"BTE TEA TIME 2024: Hubungan antara mental dan kesehatan fisik Kesehatan mental dan fisik sering kali dianggap sebagai dua hal yang terpisah. Padahal, keduanya saling berkaitan erat dan saling mempengaruhi. Seperti dua sisi mata uang, kesehatan mental yang baik akan berdampak positif pada kesehatan fisik, begitu pula sebaliknya. \u201cThe Connection: Mind and Health\u201d merupakan tema [...]","protected":false},"author":30,"featured_media":24016,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"wds_primary_category":0,"footnotes":""},"categories":[294,300],"tags":[880,879,881],"class_list":["post-24014","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kehidupan-kampus","category-pendidikan","tag-kesehatan-fisik","tag-mental","tag-mental-health"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24014","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/30"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24014"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24014\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24016"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24014"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24014"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakarta.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24014"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}